Jakarta mungkin sesekali terlelap, tapi di lorong-lorong Senayan, rasa lapar akan kekuasaan selalu terjaga. Di balik pintu-pintu kedap suara tempat Panitia Kerja RUU Pemilu meracik aturan main, sebuah rancangan baru sedang digambar dalam diam. Angka 580 rupanya dirasa belum mengenyangkan. Ada wacana yang kini beredar dari meja ke meja: tambahan porsi untuk perjamuan politik di tahun 2029.
Skemanya disusun rapi, dibungkus dengan bahasa birokrasi tentang "keterwakilan wilayah" dan "ledakan demografi". Para arsitek undang-undang ini membidik 11 daerah pemilihan (dapil) yang selama ini hanya dijatah tiga kursi. Rencananya, batas minimal itu akan didongkrak menjadi empat. Matematikanya sederhana, namun dampaknya besar: 11 kursi baru akan disisipkan, membawa total penghuni parlemen berpotensi membengkak menjadi 591 orang.
Semua ini belum final, tentu saja. Angka 591 masih berupa bayangan di atas draf kertas yang bisa berubah arah tergantung ke mana angin lobi-lobi politik berembus.
Namun, di luar gedung dewan, di jalanan kota yang riuh, sebuah pertanyaan sinis menggantung di udara: untuk siapa sebenarnya sebelas kursi empuk ini disiapkan? Apakah tambahan ini benar-benar corong bagi suara rakyat yang selama ini dibungkam, atau sekadar memperlebar meja perjamuan dengan uang pajak sebagai hidangannya?
Menambah jumlah detektif tak selalu menyelesaikan lebih banyak kasus; begitu pula dengan parlemen. Kualitas demokrasi tidak diukur dari seberapa padat ruangan sidang, melainkan dari seberapa tajam taring mereka dalam mengawasi pemerintah dan seberapa lantang suara mereka memperjuangkan nasib publik. Lebih banyak kursi berarti lebih banyak beban anggaran negara—sebuah tagihan mahal yang harus dibayar lunas oleh rakyat, tanpa adanya garansi kinerja akan meningkat.
Palu belum diketuk. Namun, sebelum skenario ini diubah menjadi hukum yang mengikat, Senayan berutang satu transparansi mutlak kepada publik. Mereka harus berani keluar dari bayang-bayang dan menjelaskan: apa sebenarnya harga dari sebelas kursi ini, dan siapa yang akan benar-benar mengambil keuntungannya?
(Aktifis 98 Saeful Yunus.SE.MM)

