Di peta politik Kabupaten Majalengka, satu nama yang terus mencuat bukan melalui gemuruh retorika yang berlebihan, melainkan melalui keteguhan langkah dan konsistensi arah. H. Rona Firmansyah, S.E., Ketua DPC Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Majalengka yang kini memasuki periode ketiga kepemimpinannya, hadir dengan pemahaman mendalam bahwa politik bukan sekadar soal kekuasaan, melainkan sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat dan sejarah.
Terpilihnya kembali Rona Firmansyah untuk ketiga kalinya bukanlah pengulangan rutinitas organisasi semata. Ia adalah sebuah penegasan: bahwa di tengah dinamika politik lokal yang terus berubah, ada satu kekuatan yang tetap berdiri tegak di atas fondasi kepercayaan yang kokoh — dan fondasi itu bernama konsistensi.
Konsolidasi Struktur: Membangun Mesin Partai dari Hulu ke Hilir
Strategi pertama dan paling mendasar yang dijalankan Rona Firmansyah adalah memperkuat fondasi organisasi hingga ke akar rumput. Bagi Rona, partai yang kuat tidak terbangun dari gedung-gedung kantor yang megah, melainkan dari kehadirannya di setiap sudut kecamatan, desa, hingga titik-titik Tempat Pemungutan Suara (TPS).
"Menyiapkan kader terbaik dan memperkuat struktur organisasi hingga ke tingkat Kecamatan, Desa dan TPS. Ini adalah perintah langsung dari DPP — menjadi kekuatan yang nyata di setiap jengkal wilayah."
Langkah ini tampak sederhana, namun di dalamnya tersimpan kedalaman pemikiran politik: bahwa setiap suara adalah nyawa, dan setiap nyawa harus dijaga melalui kehadiran yang nyata. Rona memahami betul bahwa di Kabupaten Majalengka yang luas dan beragam karakter wilayahnya, satu pendekatan seragam tidak akan mempan. Maka, strategi konsolidasi ini dibangun dengan pendekatan yang melibatkan kader di setiap lapisan, sehingga PAN tidak hanya hadir saat musim pemilihan tiba, tetapi hidup dalam denyut keseharian masyarakat.
Salah satu langkah strategis yang menunjukkan kedalaman analisis politik Rona Firmansyah adalah usulan pemekaran daerah pemilihan (dapil) DPRD Kabupaten Majalengka dari yang sebelumnya enam menjadi tujuh dapil menjelang Pemilu 2029. Usulan ini disampaikan langsung kepada KPU Kabupaten Majalengka, dengan alasan yang rasional dan berbasis data :
"Penambahan ini memang harus dilakukan karena beberapa area di Kabupaten Majalengka kurang proporsional. Contohnya di Dapil Satu, jarak dari Majalengka hingga Kasikandel sangat jauh dan kurang seimbang. Penduduk Majalengka kini telah mencapai lebih dari 1,2 juta jiwa — pembagian wilayah harus menyesuaikan realitas ini.
Ini bukan sekadar soal menambah kursi. Di dalamnya tersirat pemahaman mendalam tentang keadilan perwakilan politik. Rona sadar: masyarakat yang tersebar luas membutuhkan perwakilan yang lebih dekat, lebih terjangkau, dan lebih responsif. Dengan pemekaran dapil, setiap suara masyarakat Majalengka akan memiliki bobot yang lebih setara, dan keterwakilan lebih merata di seluruh penjuran kabupaten .
Dalam lanskap politik yang kerap terjebak pada orientasi jangka pendek, Rona Firmansyah justru melangkah lebih jauh ke depan. Strategi kaderisasinya berfokus pada mencetak pemimpin masa depan yang siap mengisi peran di legislatif maupun eksekutif.
"Ke depan PAN akan menyiapkan kader-kader terbaiknya, mempersiapkan diri untuk Pileg, Pilkada, demi Majalengka yang berkarakter biru dan Langkung SAE."
Yang menarik dari pendekatan Rona adalah bagaimana ia memadukan kesiapan elektoral dengan penguatan substansi. Bantuan dana hibah partai dari Pemkab Majalengka tidak dinikmati begitu saja, melainkan dialokasikan untuk pendidikan politik masyarakat, peningkatan kapasitas kader, serta memperkuat komunikasi politik yang konstruktif dengan masyarakat. Ini adalah investasi paling berharga: mencerdaskan kehidupan politik masyarakat, sehingga demokrasi berjalan bukan di atas sekadar emosi sesaat, melainkan kesadaran yang matang.
Di mata Rona, politik kehilangan maknanya ketika terputus dari rakyat. Gaya kepemimpinannya dikenal dekat, sederhana, dan tidak berjarak. Ia selalu hadir di tengah masyarakat — mendengar keluh kesah petani, memahami tantangan pelaku UMKM, hingga merasakan langsung denyut kehidupan di pelosok desa.
Prinsip yang dipegang teguh: "Kerja nyata, bukan sekadar kata." Mengawal proyek infrastruktur agar tepat sasaran, memperjuangkan kesejahteraan rakyat melalui kebijakan di dewan, serta memberdayakan ekonomi warga — inilah mata uang politik yang ia percayai. Pendekatan kebijakannya berbasis data dan bukti nyata, bukan asumsi, sehingga setiap langkah yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara rasional maupun moral.
Salah satu kehalusan budi politik Rona Firmansyah terlihat dalam caranya membangun hubungan dengan kekuatan politik lain. Ia dikenal sebagai tokoh yang mendamaikan, bukan memperuncing perbedaan. Di internal partai, ia merawat kebersamaan berbasis kekeluargaan. Di peta politik eksternal, ia terbuka untuk kerja sama tanpa meleburkan identitas partai.
"Kami terbuka berkomunikasi dengan semua pihak. Koalisi yang dibangun harus tetap mengabdi pada kepentingan rakyat, bukan sekadar transaksi kekuasaan."
Kematangan inilah yang membuat PAN Majalengka semakin diperhitungkan — bukan karena paling bising, tetapi karena paling dapat diandalkan. Dalam politik yang kerap diwarnai ketidakpastian, kehadiran Rona menawarkan stabilitas yang menenangkan.
Di hadapan kader dan simpatisannya, Rona menegaskan target strategis yang ambisius namun realistis: meningkatkan perolehan suara secara signifikan dan menempatkan PAN pada posisi kekuatan suara kedua terbesar di Majalengka. Lebih jauh lagi, PAN mulai serius menjajaki ranah eksekutif kesiapan mengusulkan kader mumpuni sebagai calon pemimpin daerah pada Pilkada mendatang.
"PAN Majalengka harus bukan hanya kompetitor elektoral, tetapi aktor politik yang relevan, diperhitungkan, dan berdaya tawar. Politik yang terkelola dengan baik mampu melahirkan kekuasaan yang berpihak dan bermakna bagi rakyat."
Ini adalah visi besar yang dibungkus dalam kesederhanaan gaya bicara: menjadikan PAN Majalengka sebagai kekuatan yang tidak hanya mengisi kursi, tetapi mengubah arah pembangunan menuju kesejahteraan yang lebih luas dan merata.
Strategi politik H. Rona Firmansyah pada akhirnya mengajarkan kita satu hal penting — bahwa politik yang mendalam bukan tentang seberapa tinggi suara kita terdengar, tetapi seberapa dalam kita memahami kebutuhan rakyat. Bukan tentang seberapa banyak janji yang terucap, melainkan seberapa konsisten langkah yang diambil.
Dari konsolidasi akar rumput, pemekaran dapil yang berkeadilan, kaderisasi jangka panjang, kerja nyata di lapangan, koalisi yang berprinsip, hingga kesiapan menghadapi masa depan — semua ini adalah potongan teka-teki besar yang disusun dengan hati-hati dan bijaksana.
Dan di ujungnya, ada satu harapan sederhana namun agung yang terus dinyanyikan: Majalengka yang Langkung SAE — lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat. Di sinilah letak kedalaman strategi Rona: ia tidak sedang membangun kemenangan sesaat bagi satu partai. Ia sedang meletakkan batu bata demi batu bata untuk sebuah Majalengka yang lebih beradab.
Ujang Darwin

