FAKTA LIPUTAN.COM-
Makassar – Sebuah peristiwa bermakna berlangsung di GPIB Gereja Bukit Zaitun pada 12 April 2026, menghadirkan nuansa yang tidak hanya khidmat, tetapi juga menggugah semangat. Dalam suasana ibadah yang tenang dan penuh penghormatan, Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA, PhD secara langsung menyerahkan buku karyanya yang ke-12 berjudul “Maritime Theology” kepada Pendeta Jemaat, Bapak Pendeta Bobby J. Tindatu.
Momen ini menghadirkan makna yang lebih dalam daripada sekadar seremoni penyerahan buku. Ia menjadi lambang pertemuan dua dunia besar—ilmu pengetahuan dan spiritualitas—yang berpadu dalam satu tujuan: membangun manusia yang utuh, baik secara intelektual maupun iman. Penyerahan tersebut berlangsung di depan altar, memberikan kesan simbolis bahwa setiap karya yang lahir dari pemikiran dan pengalaman dapat menjadi persembahan bagi pelayanan.
Dalam buku “Maritime Theology”, Prof. Eddy menghadirkan perspektif yang jarang disentuh. Ia mengangkat dunia pelayaran sebagai ruang refleksi iman yang kaya. Laut tidak hanya dipahami sebagai jalur perdagangan atau transportasi global, tetapi juga sebagai tempat di mana manusia belajar tentang ketidakpastian, ketahanan, dan kepercayaan kepada Tuhan. Dari gelombang yang tak terduga hingga luasnya cakrawala, semuanya menjadi metafora kehidupan yang sarat makna spiritual.
Dalam penyampaiannya, Prof. Eddy menekankan bahwa pengalaman di laut telah membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia menggambarkan bagaimana seorang pelaut seringkali dihadapkan pada situasi yang tidak dapat dikendalikan, sehingga hanya iman yang menjadi pegangan utama. Pemikiran inilah yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan, agar dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, tidak hanya bagi mereka yang bekerja di sektor maritim.
Pendeta Bobby J. Tindatu menyampaikan apresiasi yang mendalam atas karya tersebut. Ia melihat buku ini sebagai kontribusi penting yang dapat memperluas cakupan pelayanan gereja. Menurutnya, gereja perlu hadir dalam setiap aspek kehidupan jemaat, termasuk dalam dunia kerja yang penuh tantangan seperti pelayaran. Buku ini dinilai mampu menjembatani pemahaman bahwa iman tidak terbatas pada ruang ibadah, melainkan hidup dalam setiap aktivitas sehari-hari.
Peristiwa ini juga memperlihatkan kekuatan literasi sebagai sarana transformasi. Sebuah buku dapat menjadi alat yang mampu mengubah cara berpikir, memperkaya wawasan, serta menumbuhkan kesadaran baru. Kehadiran “Maritime Theology” di tengah jemaat diharapkan dapat mendorong lahirnya dialog, refleksi, serta penguatan iman dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pesan terbuka bagi masyarakat luas bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkarya dan memberi dampak. Tidak harus menunggu sempurna untuk memulai, karena dari langkah kecil sekalipun dapat lahir pengaruh yang besar. Apa yang dilakukan oleh Prof. Eddy menjadi contoh nyata bahwa pengalaman hidup, jika diolah dengan baik, dapat menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, sinergi antara ilmu dan iman menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk karakter manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana. Penyerahan buku ini menjadi bukti bahwa ketika keduanya dipadukan, akan lahir kekuatan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Akhirnya, momen di GPIB Gereja Bukit Zaitun ini meninggalkan jejak yang mendalam. Ia bukan hanya tentang sebuah buku yang berpindah tangan, tetapi tentang nilai, semangat, dan harapan yang terus bergerak. Dari satu karya, lahir inspirasi. Dari satu tindakan, tercipta perubahan yang dapat menjangkau banyak kehidupan.(*)
